Serapan Pupuk Subsidi Tabalong Masih Rendah, DKP3 Ingatkan Risiko Pengurangan Alokasi

Realisasi penyaluran pupuk bersubsidi di Kabupaten Tabalong hingga April 2026 masih tergolong rendah. Dari total alokasi yang ditetapkan, baru berkisar 15 hingga 27 persen pupuk yang berhasil tersalurkan ke tangan petani. Hal ini pun menjadi perhatian serius Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan atau DKP3 Tabalong.
Penyaluran pupuk bersubsidi di Kabupaten Tabalong untuk tahun 2026 ini mencakup tiga jenis utama pupuk, yakni urea, NPK, dan organik. Alokasi yang ditetapkan untuk Tabalong tahun ini, untuk urea sebesar 1.675 ton, NPK sebesar 1.793 ton, dan organik sebesar 193 ton. Angka ini sendiri sudah lebih rendah dari Rencana Kebutuhan Kelompok Tani yang diajukan sebelumnya.
Namun dari total alokasi tersebut, realisasi penyaluran dari Januari hingga April 2026 menunjukkan angka yang masih rendah. Urea baru tersalurkan sebanyak 260,2 ton atau sekitar 15 persen dari alokasi. Sementara NPK mencapai 498,5 ton atau 27,8 persen. Sedangkan pupuk organik menjadi yang paling rendah, baru 14,7 ton atau hanya 7,6 persen dari alokasi yang tersedia.
Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura DKP3 Tabalong menyebut, salah satu penyebab rendahnya realisasi ini adalah ketidaksiapan petani dalam menebus pupuk, meski harganya sudah jauh lebih murah dibanding harga pasaran. Kondisi ini menjadi catatan penting bagi dinas, karena serapan yang rendah bisa berdampak pada pengurangan alokasi di tahun berikutnya.
"Nah itu masih sering kita temukan, sehingga penyaluran kita kadang-kadang di bawah. Artinya barangnya ada, tetapi tidak diambil oleh petani. Itu masih menjadi catatan kita dalam penyaluran pupuk subsidi. Artinya nanti pasti ada evaluasi lagi. Salah satu dampak evaluasi adalah ketika kita sudah mendapat alokasi, kemudian itu diambil tidak sesuai, yang artinya ada kelebihan, ini menjadi catatan untuk alokasi kita tahun berikutnya. Matematikanya, ketika kita tidak bisa mengambil semua itu, artinya kita harus dikurangi. Nah, itu yang mungkin pada saat petani kembali memerlukan dalam jumlah cukup, alokasinya kurang. Ini mungkin ke depan menjadi perhatian kita untuk bisa diperbaiki lagi, kebutuhan dan pengambilan itu agar sesuai, supaya tidak ada kelebihan stok," ujar Rahmani, Kabid TPH DKP3 Tabalong.
DKP3 Tabalong berharap ke depan petani bisa lebih siap dalam menebus pupuk bersubsidi sesuai waktu yang dibutuhkan. Mengingat harga pupuk subsidi yang jauh lebih terjangkau, seperti urea yang hanya dijual seharga 1.800 rupiah per kilogram, dibanding harga pasaran yang mencapai hampir 20 ribu rupiah per kilogram. Rendahnya serapan pupuk bersubsidi bukan hanya merugikan petani, namun juga berpotensi memangkas jatah alokasi Tabalong di masa mendatang.








