Siap Hadapi Bencana, Ratusan Siswa MIN 5 Tabalong Ikut Simulasi

Ratusan warga sekolah Madrasah Ibtidaiyah Negeri 5 Tabalong, mengikuti simulasi tanggap darurat bencana, yang digelar BPBD Tabalong di Desa Tanta Hulu, Kecamatan Tanta pada 10 September 2026. Melalui simulasi tersebut, siswa dan guru diedukasi mengenai tanda bencana, melakukan evakuasi, hingga pemulihan trauma pascabencana.
Aktivitas belajar mengajar di MIN 5 Tabalong mendadak dihentikan, saat sirene peringatan bencana dibunyikan petugas. Sekitar seratus delapan puluh siswa kelas empat hingga enam bersama sejumlah guru, kemudian diarahkan menuju titik kumpul sesuai jalur evakuasi yang telah ditentukan.
Dalam simulasi ini, BPBD Tabalong bersama unsur TNI-Polri memberikan edukasi praktis kepada siswa, mulai dari mengenali tanda-tanda bencana, mengikuti arahan petugas, hingga proses evakuasi menuju tempat pengungsian. Para siswa dan guru kemudian diangkut menggunakan unit BPBD dan Brimob menuju Kantor Desa Tanta Hulu.
Kepala BPBD Tabalong, Haris Fakhrozi, menjelaskan penanganan bencana terbagi dalam tiga fase, yaitu parabencana, keadaan darurat, dan pascabencana. Melalui simulasi ini, siswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi langsung mempraktikkan proses evakuasi hingga penanganan di pengungsian.
"Kita kalau dalam bencana ini ada tiga fase yah, fase pra bencana, keadaan darurat dan juga pasca bencana, nah kita sekarang sudah memasuki pasca yah. Jadi ini kita melakukan simulasi yah terkait apabila nanti terjadi bencana dan daerah ini merupakan bencana banjir dan karhutla, dan saat terjadi itu diperlukan pengungsian, maka kita akan melakukan evakuasi, nah kita tadi memberikan edukasi kepada siswa kita dan guru juga, juga mengajarkan membaca, melihat bagaimana tanda tanda kebencanaan itu, tadi kita sudah beri tanda tanda diplank juga sehingga apabila terjadi bencana darurat dan perlu dilakukkannya pengungsian dan pada saat pasca, anak anak kita sudah paham dan dipengungsian kita lakukan trauma healing," kata Haris Fakhrozi, Kepala BPBD Tabalong.
Setelah berada di lokasi pengungsian, para siswa kembali mendapatkan penanganan, kali ini melalui simulasi pemulihan trauma atau trauma healing. Berbagai permainan dan tebak kata dilakukan, agar anak-anak tetap tenang dan tidak terbawa dampak psikologis dari bencana.
Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI, Kolonel Arhanud Riyanto Budi Nugroho, menyebut trauma healing menjadi bagian penting dalam penanganan korban bencana, khususnya anak-anak. Meski hanya simulasi, menurutnya pola penanganan ini dapat diterapkan apabila bencana benar-benar terjadi.
"Jadi disimulasi ini korban kita kumpulkan di pengungsian, kita laksanakan trauma healing khususnya kepada anak anak, supaya psikologisnya tidak terganggu sebagai akibat dari kebencanaan. Nah tadi dsini kita simulasikan, kita adakan permainan, intinya hiburan bagaimana mereka psikologisnya tidak terkuncang akibat adanya bencana, tapi ini sifatnya latihan, tetapi hal ini bisa diimplementasikan dan dipraktekan apabila nanti suatu saat ada bencana," ujar Kolonel Arhanud Riyanto Budi Nugroho, Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI.
Simulasi ini diharapkan dapat mebekali siswa dan guru dengan pengetahuan serta kesiapan, sehingga tidak panik ketika menghadapi bencana banjir maupun karhutla. Edukasi sejak dini juga menjadi langkah penting, agar lingkungan sekolah memiliki kesiapan dalam melakukan evakuasi secara cepat dan terarah.
